Cerita ini kubuat waktu aku masih kuliah.... Masih belum muat cerita baru karena masih dalam tahap penulisan... Mungkin ceritaku ini rada-rada aneh. Dalam ajaran agamaku, tidak ada dewa-dewa seperti Dewa Zeus, Apollo atau Brahmana. Tapi yang namanya berkhayal kan boleh aja suka-suka kan? Kadang aku suka berkhayal dewa itu sebenarnya ada, tapi mereka adalah bawahannya Tuhan... Haha
Aku duduk mengamati sepasang muda-mudi yang sedang mengobrol di meja seberang. Mereka tampak sangat bahagia. Aku juga merasa bahagia melihat manusia yang saling jatuh cinta itu. Cinta... Andaikan setiap manusia tetap menjaga cinta, maka tidak akan ada peperangan yang menyiksa di dunia ini. Aku sudah terbiasa melihat manusia yang saling jatuh cinta, putus cinta, bahkan bertengkar karena putus cinta. Tugasku sebagai malaikat cinta memang tidak mudah, aku harus terus mengawasi mereka sendiri dan memberi nasihat di hati mereka. Ada manusia yang jujur dengan perasaannya, ada yang selalu menutup hatinya. Aku harus bersabar untuk semua itu.
Seperti biasa, aku mengawasi daerah yang dipercayakan padaku, daerah K. Hari ini aku menyamar sebagai manusia dan berjalan memasuki lorong-lorong kota.
"Jenifer...", panggil seseorang. Tiba-tiba di hadapanku ada Ledna. Ia sama sepertiku, seorang malaikat cinta, dan ia mengawasi daerah F, daerah yang tidak jauh dariku. Kami sering bertemu dan saling memberi saran untuk menghadapi manusia-manusia yang sulit dihadapi.
"Ledna? Ada apa kau kesini?".
Ledna meneteskan air matanya. Ia tampak sangat tertekan.
"Kamu... menangis?"
"Jen, aku sudah tidak tahan lagi", isak Ledna. "Aku akan berhenti menjadi malaikat cinta".
Aku tersentak, "Ledna, sadarlah... kau tidak bisa melakukan itu".
Ledna menggeleng.
"Kau tahu, Jen... Kita sebagai malaikat cinta selalu memberikan nasehat tentang cinta kepada manusia, tetapi kita tidak bisa meraih cinta kita...."
"Ledna... Masa kau..."
"Aku jatuh cinta pada seorang pria. Pria itu juga sudah berkali-kali mengatakan cinta kepadaku...", Ledna tersedu-sedu. "Kalau kita dilarang jatuh cinta, kenapa kita diberikan perasaan cinta... Seharusnya Dewi Venus menghilangkan perasaan ini ketika ia memilih kita menjadi malaikat", kata Ledna dan ia pun menghilang.
Aku tertegun, merenungkan kata-kata Ledna itu. Benar kata Ledna, jika kami sebagai malaikat cinta dilarang jatuh cinta, kenapa perasaan ini tidak dibuang jauh-jauh. Dewi cinta sebelumku di daerah K ini juga sama seperti Ledna. Ia jatuh cinta kepada seorang pria dan ia sudah menikah dengan pria itu. Hukuman karena telah melanggar peraturan tidak jatuh cinta adalah kami dibuang dan dilahirkan menjadi manusia. Itu berlaku untuk semua malaikat. Setelah menikah, malaikat cinta itu tertangkap dan ia pun harus menjalani hukumannya.
"Ledna, maafkan aku, aku tidak bisa membantumu", bisikku.
"Khu khu khu... Memalukan", seorang pria berbaju hitam berdiri di sampingku. Dia adalah Alexis, malaikat kebencian yang ditugaskan di daerah yang sama denganku.
"Cinta itu benar-benar membuat semua orang lemah... tidak berguna!", ejek Alexis.
"Pergi kau!",usirku.
"Oh, jahat sekali... Dewi cinta kok kasar sekali. Seharusnya kau menyambutku dengan penuh cinta", sindir Alexis dan ia pun menghilang.
Sementara itu, di khayangan, Dewi Venus tampak sibuk memeriksa data-data manusia yang akan direkrutnya menjadi malaikat cinta. Sebuah panggilan menghentikan Dewi Venus.
"Maaf, Dewi Venus... Tuan Dewa Mars ingin berbicara dengan Anda".
"Hm, ada apa gerangan?", gumam Dewi Venus. "Sambungkan...", perintahnya.
Sebuah layar hologram muncul, dari layar itu terlihat seorang pria dengan tatapan dan senyum sinis menyambut Dewi Venus.
"Mars... Kenapa kau tiba-tiba menghubungiku?"
"Aku cuma ingin menyapamu... Dewi cintaku yang cantik".
"Oh... Terima kasih. Tapi aku tahu, kau tentunya tidak suka membuang-buang waktumu cuma karena ingin menyapaku, bukan?"
Dewa Mars terkekeh-kekeh.
"Kau benar-benar mengerti aku..."
"Lalu ada urusan apa kau menghubungiku?"
"Kudengar ada satu lagi malaikatmu yang jatuh cinta dan berhenti menjadi malaikat..."
"Ya, benar sekali"
"Apa kau tidak malu? Ini sudah yang kesekian kalinya... Lalu kau terus-terusan mencari pengganti mereka."
"Untuk apa aku malu? Mereka adalah malaikat cinta. Jika mereka jatuh cinta, itu bukan hal yang memalukan. Justru itu adalah hal yang patut dibanggakan."
Mars mendengus. “Kau tahu, kadang cinta bisa berubah seiring berjalannya waktu”.
“Aku tahu itu, tapi selama manusia masih mau saling menghargai dan membutuhkan, cinta akan selalu ada”, jawab Venus.
“Terserah apa katamu”, Mars mematikan layar dihadapannya. Venus menghela napasnya.
Aku memasuki toko buku dan melihat-lihat buku di situ, banyak sekali buku-buku cerita tentang cinta. Seorang pria mendekatiku.
"Hai... ", sapa pria itu.
"Hai", sahutku.
"Boleh aku berkenalan denganmu?", tanya pria itu. Aku tersenyum.
"Ya, namaku Jeniffer", jawabku.
"Aku Frans", jawab pria itu. Kami pun bersalaman.
"Aku sering melihatmu ke sini... Apa kau buku?", tanya Frans.
"Ya, aku suka sekali", jawabku.
Pria ini tampaknya tertarik denganku, aku bisa merasakannya. Ia mengajakku bercerita tentang berbagai macam buku. Aku senang mendengarnya, karena ternyata pria ini juga senang membaca novel cinta. Dari kejauhan, aku melihat Alexis, ia menatapku tajam dari kejauhan. Aku berbalik menatapnya. Rupanya ia merasa tidak enak dan ia langsung menghilang.
"Ada apa?", tanya Frans. Aku hanya menggeleng dan meninggalkannya seorang diri.
Rupanya Alexis ada di luar toko itu. Aku mendekatinya.
"Apa maksudmu mengawasiku?"
Alexis tersenyum sinis dan berkata,"Aku hanya ingin selalu memantau perkembangan cerita cintamu. Kali ini pria itu?"
Aku marah.
"Bukan urusanmu".
"AKu tahu, kau sudah berkali-kali jatuh cinta dengan pria manusia tapi selalu kau simpan perasaan itu... Kenapa? Padahal aku ingin kau berhenti seperti pendahulu-pendahulumu".
"Kau tahu kenapa? Aku tidak ingin kalah dari kalian para malaikat kebencian. Kalian sudah beribu-ribu tahun menjadi malaikat. Aku tidak akan kalah".
"Oh, begitu... Kita lihat saja nanti. Sampai berapa lama kau bisa bertahan", Alexis terkekeh-kekeh dan menghilang di antara kerumunan orang.
Frans, pria itu selalu saja mengajakku pergi berjalan-jalan ke mana saja. Aku selalu menolaknya. Tidak, aku tidak ingin memberinya harapan.
Hari ini, entah kenapa aku ingin memasuki bioskop. Dengan memakai tubuh malaikatku, tidak ada yang bisa melihatku, sehingga dengan leluasa aku bisa memasuki bioskop. Aku duduk di bangku yang kosong. Film yang ditayangkan bercerita tentang seorang wanita manusia yang jatuh cinta dengan seorang vampire. Mereka bisa hidup bahagia. Seandainya di dunia nyata segala sesuatunya semudah itu, tidak ada yang akan patah hati.
"Cerita payah!", aku dikagetkan dengan suara yang sudah sangat kukenal. Aku menoleh, ternyata Alexis duduk tepat di sebelah kananku.
"Sejak kapan kau ada di situ?", desisku marah.
"Sejak kau menikmati film memuakkan ini", jawab Alexis dengan senyum mengejek.
"Kenapa kau ikut menonton kalau memuakan".
"Aku hanya ingin tahu, film apaan sih ini sampai banyak yang suka. Ternyata cuma cerita cinta", desah Alexis dengan nada kecewa.
“Cerita cinta memang selalu disukai, bahkan cerita perang saja dibumbui dengan cerita cinta, bukan?”, sahutku.
“Huh! Membosankan!”, gerutu Alexis.
“Aku lebih baik pergi daripada mendengar gerutuanmu”, kataku kesal dan bangkit berdiri, siap untuk meninggalkan tempat itu. Alexis cepat-cepat menahan tanganku.
“Rasanya tidak seru kalau kita nonton separuh jalan”.
Aku pun duduk lagi. Di layar menampilkan adegan dua orang pemeran utama berciuman. Alexis hanya mendengus.
“Apa kalau cinta itu selalu dibuktikan dengan ciuman?”
“Itu hanya ekspresi orang yang saling mencintai...”, jawabku kesal.
“Lalu bagaimana kalau begini?”, Alexis mendekatkan wajahnya kepadaku. Aku terkejut dan cepat-cepat memalingkan wajahku.
“Apa yang kau pikirkan?”, kataku geram.
Alexis tidak menjawab. Tiba-tiba aku merasakan gelombang yang sudah sangat kukenal, gelombang cinta dari Alexis. Alexis rupanya menyadarinya dan ia cepat-cepat menghilang. Aku tertegun, apakah benar yang kurasakan ini? Alexis? Jatuh cinta? Apakah seorang malaikat kebencian juga bisa mencintai? Kalau memang seperti itu, aku tidak bisa membantunya. Maafkan aku, Alexis.
Aku mengamati Frans dari seberang jalan. Dia sedang asyik menekan-nekan BB-nya. Sesekali ia tersenyum ketika membaca pesan dari teman-temannya. Aku teringat pada Alexis. Aku tidak melihatnya selama beberapa hari ini sejak hari itu. Mungkin ia malu karena mempunyai perasaan cinta. Hal yang memalukan, karena ternyata malaikat kebencian mempunyai perasaan cinta.
“Hei!”, tegur Frans.
Aku tersadar dari lamunanku. Frans tersenyum.
“Apa yang kau pikirkan? Sampai-sampai tidak sadar aku mendekat.”
“Tidak”, jawabku. “Aku sedang ada masalah dengan temanku”.
“Hmm, kalau boleh tahu, teman wanita atau pria?”
Aku sebenarnya tidak senang jika ada yang ikut campur begini, tapi aku tersenyum dan menjawab, “Teman priaku”.
Frans terlihat sedikit kecewa dengan jawabanku.
“Maaf kalau aku terlalu lancang, kalau kau tidak keberatan, aku siap membantumu”.
“Terima kasih, Frans. Ini masalah pribadi, biar kami sendiri yang menyelesaikannya”, tolakku.
Frans semakin kecewa, aku bisa melihatnya di raut wajahnya. “Ya sudah kalau begitu, aku harus pergi dulu... Kita bertemu lagi lain waktu ya”, Frans pun cepat-cepat pergi.
Aku memandangi Frans yang pergi menjauh. Maaf, ini bukan masalah yang bisa diselesaikan oleh manusia biasa. Bahkan kami sebagai malaikat saja tidak bisa menyelesaikan masalah ini. Alexis, di mana kau? Entah kenapa perasaanku menjadi tidak menentu karena mengkhawatirkannya.
“Alexis tidak ada di sini?”, seorang wanita berpenampilan seperti Alexis muncul di hadapanku. Aku tahu, dia adalah malaikat kebencian di daerah tetangga.
“Dia menghilang beberapa hari ini, aku tidak melihatnya”, jawabku.
“Hmmm”, wanita itu melirikku dengan nakal. “Kau tahu? Alexis sudah 3 bulan tidak melapor kepada dewa Mars. Jadi dewa Mars menyuruhku untuk mencarinya”.
“Tiga bulan? Ada apa dengan Alexis?”
“Entahlah, kapan kau terakhir bertemu dengan dia, Jenifer?”, selidik wanita itu.
“Kira-kira 4 hari yang lalu.”
Wanita itu mengernyitkan kepalanya.
“Dia masih menemuimu, tapi tidak pernah memberi laporan lagi?”
Wanita itu menghilang. Aku terpana. Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Alexis, tapi bisa saja Alexis takut perasaannya itu diketahui oleh Dewa Mars dan iapun dihukum.
“Aku tahu dimana Alexis berada”.
Di hadapanku berdiri Desdemona. Pakaiannya hitam dan wajahnya begitu muram. Ia adalah malaikat kematian yang bertugas di area yang sama denganku dan Alexis.
“Kenapa kau tidak memberitahu wanita tadi?”
Desdemona menatapku tajam. “Menurutmu apa yang akan terjadi jika wanita itu bertemu Alexis?”
Aku diam.
“Jen, Alexis yang sekarang sudah tidak mempunyai aura kebencian. Perasaan cinta muncul di hatinya. Itu adalah aib untuk malaikat kebencian. Jika wanita itu bertemu Alexis, ia akan melaporkannya pada Dewa Mars dan ia akan dihukum. Hukuman bagi malaikat kematian yang melanggar peraturan sangatlah berat. Sebelum mereka dibuang, mereka akan disiksa terlebih dahulu kemudian mereka akan direinkarnasi menjadi manusia yang nasibnya sangat sengsara”.
“Lalu apa aku harus menemuinya? Kalaupun aku bertemu dengannya, aku tidak bisa membantunya”.
“Setidaknya ikuti saja aku.’’
Desdemona menghilang dan aku cepat-cepat mengikutinya. Kami pun tiba di lobi hotel berbintang lima. Desdemona menyusuri sofa-sofa yang ada di lobi itu, aku mengikutinya. Lalu aku melihat sosok yang sudah kukenal, Alexis. Alexis tampak menderita. Ia memandangi langit-langit lobi hotel itu dengan pandangan kosong.
“Alexis”, panggilku pelan.
Alexis menoleh dengan perlahan. Ketika melihatku, ia hanya tersenyum tipis.
“Bagaimana kau menemukanku?”
“Desdemona yang memberitahu”
Desdemona menatap Alexis dingin. Alexis mendengus. “Sudah kubilang, jangan campuri urusanku, Des”.
“Desdemona mengkhawatirkanmu, Lex”.
Alexis kembali mendengus.
“Lalu buat apa dia membawamu kemari? Apa KAU si malaikat CINTA bisa membantuku?”, ejek Alexis. Ia lalu tertawa terbahak-bahak sehingga ada beberapa orang melihatnya dengan heran.
“Baiklah”, Alexis berdiri dari sofa. Ia mendekatiku. Diraihnya tanganku dan diletakannya tanganku ke dadanya.
“Perasaan apa ini? Aku tidak suka!!!”, bentak Alexis. Aku meringis kesakitan, apalagi Alexis memegang tanganku dengan sangat keras. Alexis melepaskan tangannya.
“Kalau begitu, katakan siapa orang yang kau cintai itu”.
“Untuk apa? Walaupun kau tahu, kau tidak bisa berbuat apa-apa juga”, Alexis kembali duduk.
“Mungkin aku bisa mendengarkan keluhanmu, setidaknya itu bisa mengurangi rasa sedihmu”.
Alexis terdiam.
“Aku harus pergi”, Desdemona langsung menghilang.
Aku menatap Alexis sedih.
“Jangan menatapku seperti itu”.
“Katakan apa yang kau rasakan?”
Alexis menghela napasnya. Ia menutup matanya.
“Cinta bisa membuat orang posesif. Cinta bisa membuat orang gila. Cinta itu menyakitkan kalau bertepuk sebelah tangan. Cinta....”, Alexis berhenti bicara dan ia memandangku dengan sedih. “Cinta itu perasaan yang sangat menyedihkan”.
Aku tidak bisa membalas kata-katanya, jadi aku Cuma memandanginya.
“Duduklah... Aku tidak mau kau berdiri terus di situ”, pinta Alexis. Aku pun duduk di sampingnya.
“Aku tidak tahu sejak kapan mempunyai perasaan ini. Aku selalu merasa senang jika melihat senyumnya. Jika aku tidak bertemu dengannya, aku merasa kehilangan dan aku akan segera mencarinya. Lalu ketika ada orang lain mendekatinya, aku marah. Rasanya ingin aku menyingkirkan orang itu. Tapi aku takut dia akan menangis dan tidak tersenyum lagi”.
“Lalu dimana dia sekarang?”
Alexis diam, ditatapnya aku dengan tajam. Aku merasa pandangannya seperti menusuk jantungku. Jantungku berdebar kencang. Ah, kenapa aku merasa seperti ini? Alexis mengulurkan tangannya dan mengusap pipiku.
“Aku senang akhirnya aku bisa bertemu denganmu”, jawabnya sambil tersenyum dan ia pun menghilang dari hadapanku. Tanpa terasa air mataku mengalir. Desdemona duduk di sebelahku.
“Kita sebagai malaikat tidak diijinkan untuk jatuh cinta.... Alexis sadar itu.... Dia sudah siap menerima hukuman”.
“Maksudmu?”
“Alexis mengatakannya padaku... Ia ingin bertemu denganmu sebelum ia menghadap Dewa Mars untuk yang terakhir kalinya”.
“Eh?”
Alexis berjalan dengan langkah gontai memasuki ruangan Dewa Mars. Dewa Mars menatapnya dengan marah.
“Bodoh kau!”, bentaknya. Alexis hanya tertunduk.
“Valerie... Bawa dia ke ruang hukuman!”, perintah Dewa Mars.
Valerie menarik tangan Alexis. Alexis melepaskannya dan berkata, “Aku tidak akan kabur, aku akan jalan sendiri”.
Aku berlari melewati beberapa malaikat penjaga istana Dewa Mars. Mereka mengejarku. Lalu aku melihat wanita yang tadi menemuiku di dunia.
“Di mana Alexis?”.
Wanita itu tersenyum sinis, iapun melambaikan tangannya kepada para penjaga yang mengejarku. Para penjaga itu berhenti dan mundur.
“Kau ingin menemuinya? Baiklah, aku akan mengantarkannya padamu”.
Wanita itu mengantarkanku ke sebuah ruangan. Di ujung ruangan itu aku melihat Alexis dengan tangan terikat. Ia berkali-kali dipukuli oleh seseorang berwajah sinis. Aku cepat-cepat mendekati Alexis.
“Alexis!”, panggilku.
Alexis perlahan-lahan membuka matanya.
“Jen...”, sahut Alexis lemah.
Tiba-tiba air mataku mengalir.
“Hei... kenapa kau menangis? Tersenyumlah.”
“Alexis...”
Pria berwajah sinis itu mendorongku dan ia melepas ikatan pada Alexis.
“Sudah saatnya kau menjalani masa reinkarnasi, Alexis”, kata pria itu. Alexis menurut dan mengikuti pria itu.
“Alexis... Sebelum kau pergi, aku ingin mengatakan ini... aku cinta kamu”, seruku sambil menahan isak tangisku.
Alexis berhenti dan ia menoleh padaku dan tersenyum. “Aku senang mendengarnya... Aku juga mencintaimu, Jen”, kata Alexis dan ia pun kembali berjalan mengikuti si pria tadi. Wanita yang tadi mengantarku membantuku berdiri.
“Trims...”, ucapku. “Aku lega setelah mengucapkannya, terima kasih atas bantuanmu”.
Wanita itu memalingkan wajahnya dariku. Aku pun melangkah keluar dari ruangan itu. Aku pun menuju istana Venus untuk menemui Dewi Venus.
Dewi Venus rupanya sudah menungguku, ia tersenyum padaku.
“Kau tahu, Jen? Kadang perasaan benci itu bisa berubah menjadi cinta, dan cinta bisa berubah menjadi benci... Sampai ada yang mengatakan, perbedaan antara cinta dan benci itu sangat tipis.”
Aku mengangguk. Dewi Venus memandangku penuh arti. “Kau sudah melanggar peraturan... Jadi kau harus menjalani hukuman juga”.
Aku hanya bisa tertunduk. Aku sudah menduga pasti akan seperti ini.
“Aku sudah siap menerima hukuman ini, Dewi... Tapi aku tidak menyesal karena aku sudah mengatakan perasaanku pada Alexis”.
Dewi Venus kembali tersenyum. “Alexis akan menjalankan hukuman reinkarnasinya di planet B, dan kau akan menjalani hukuman di planet H. Kalian memang tidak akan diletakan di planet yang sama karena ini adalah hukuman buat kalian”.
“Ya, aku tahu, Dewi... Walau aku tidak bertemu dengannya, tapi aku akan menemukan cinta yang lain di planet itu”.
“Aku senang dengan jawabanmu... Tapi ada satu hal kenapa ini dikatakan sebagai hukuman bagi para malaikat. Karena setelah menemukan cinta yang lain itu, kau masih terus mencari cintamu selama menjadi malaikat... Kau tidak akan selalu menanti pria yang menjadi cintamu sekarang.”
Aku mengangkat kepalaku dan memandang Dewi Venus dengan tidak percaya.
“Kalau Tuhan berkenan, kalian akan bisa dipertemukan”, hibur Dewi Venus sambil tersenyum. Aku tahu, Dewi Venus hanya menghiburku, karena 2 planet yang berjauhan seperti itu tidak mungkin kami bisa bertemu.
“Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan...”, kata Dewi Venus yang membaca pikiranku. Ia pun membawaku menuju ruang reinkarnasi.
Alexis, jika memang Tuhan berkenan, aku ingin bertemu lagi denganmu dan kita dapat saling mencintai.
Aku terbangun dari tidurku, air mataku mengalir dan kuhapus air mataku, “Mimpi itu lagi...”
Entah kenapa aku selalu memimpikan hal itu. Menjadi malaikat yang jatuh cinta dan diusir. Tapi mimpi itu penuh kesedihan, sampai2 air mataku mengalir.
“Nancy... kau sudah bangun?”, panggil Gina, teman sekamarku dari luar kamar.
“Ah, iya... kenapa Gina?”
“Kita sebentar lagi akan tiba di planet Covenent... Kapten kapal sudah menunggu kita”.
Aku cepat-cepat bersiap. Entah kenapa sepertinya planet ini terus memanggilku. Aku memaksa untuk diikutkan dalam investigasi ke planet yang indah ini. Sepertinya ada sesuatu yang menungguku disini. Aku jadi tidak sabar untuk menginjakkan kakiku di planet ini.
Tamat
