Jumat, 25 Februari 2011

Coklat Valentin Untukmu


Oleh Din-din

Hari ini tanggal 13 Februari. Esok adalah hari Valentine. Murid-murid di SMU K sudah pada ribut membicarakannya. Ada yang sudah mempersiapkan kado untuk pacarnya, ada yang membeli coklat untuk orang yang disukainya, ada juga yang sekedar membeli coklat untuk diberikan kepada teman-temannya. Lalu ada juga yang cuek saja dengan hari yang katanya istimewa itu.
Evy adalah salah satu murid yang sudah mempersiapkan coklat . Ia berencana memberikan coklat itu kepada seseorang yang selama ini dia sukai, Nick. Nick adalah kakak kelas Evy. Evy masih duduk di kelas I SMU, sedangkan Nick sudah kelas III. Evy menyukai Nick sejak dari pertama kali masuk SMU, ketika masa orientasi. Evy masih ingat saat itu, ketika semua murid diharuskan mencari tanda tangan beberapa kakak kelas. Nick adalah salah satu kakak kelas yang memberi plonco. Waktu itu Evy terjatuh, Nick mendekatinya dan menanyakan apakah Evy baik-baik saja. Sejak saat itulah Evy jatuh cinta pada Nick.
Viny mengamati kado yang dipegang Evy dengan penasaran.
“Buat siapa tu? Masa buat Kak Nick?”, tanya Viny.
Evy tersenyum. “Iya.... Ini buat Kak Nick. Kak Nick, kakak kelas kita yang paling baik...”, sahut Evy dengan wajah penuh pujaan.
“Cieeeh.... Bagaimana kamu tahu kalau Kak Nick itu baik?”, Selvie tiba-tiba muncul.
“Pokoknya dia itu baik... Keren... Apalagi dia ketua klub basket sekolah kita”.
“Tapi kan tahun ini ketua klub basket kita diganti dengan Kak Ben”, kata Viny.
“Biarin! Menurutku yang paling keren Cuma Kak Nick”, sahut Evy tak mau kalah.
“Kamu kayaknya lebih cocok dengan Kak Ben deh, Ev”, sindir Selvie.
“Apa??? Kak Ben? Waduh, jangan salah paham ya kalian. Walau aku sering ngobrol dengan Kak Ben, cintaku hanya untuk Kak Nick.
“Huuu....”, cibir Viny.
“Lalu apa kamu gak takut ditolak Kak Nick? Kak Nick kan populer di sekolah kita. Bisa aja dia sudah punya pacar”.
“Tidak mungkin! Aku gak pernah lihat Kak Nick jalan ama cewek. Jadi dia pasti belum punya pacar. Aku yakin pasti diterima. Pokoknya besok akan kuberikan coklat ini kepada Kak Nick”, kata Evy dengan penuh harap.
Viny dan Selvie saling berpandangan. Mereka Cuma mengangkat bahu. Mereka tidak tahu lagi apa yang harus mereka katakan pada teman mereka itu.

Keesokan harinya, hari Valentine yang ditunggu2 telah tiba. Evy dengan bangganya memamerkan coklat yang sudah dibungkusnya dengan rapi pada Viny dan Selvie.
“Bagaimana? Bagus kan?”, pamer Evy.
Kertas kado yang dipakai Evy bergambar kado dengan tulisan “Happy Birthday”. Viny langsung berkomentar, “Kok tulisannya “Happy Birthday”? Gak salah tu, Ev? Kan ini valentine, seharusnya kan gambarnya hati dengan tulisan “I Love You” atau Happy Valentine Day.” Selvie cekikikan mendengar komentar Viny.
“Ini gara-gara kehabisan kertas kado seperti itu, jadi terpaksa deh beli kertas kado ini. Yang penting kan maksudku memberi ini kepada Kak Nick”, Evy membela diri.
“Iya deh, terserah kamu.” Viny menyerah.
“Kalau sudah senang begitu, kamu juga harus siap ditolak”, goda Selvie.
“Huh! Kalian ini, bukannya mendoakan supaya aku diterima, eh malah mendoakan aku ditolak”, omel Evy.

Istirahat pertama, Evy cepat2 menuju kelas Nick. Dia menunggu Nick keluar dari kelas. Ketika melihat Nick berjalan menuju pintu, Evy cepat-cepat mendekatinya.
“Evy? Ada apa?”, tanya Nick.
“Kak Nick, ini buat kakak”, kata Evy sambil memberikan kado pada Nick.
Nick terdiam. “Maaf, Vi. Aku tidak bisa menerimanya”, tolak Nick kemudian.
“Eh”, kata-kata Nick itu cukup membuat Evy terpukul.
“Aku sudah punya pacar, jadi tidak pantas kan aku menerima coklat dari cewek lain”, jelas Nick.
Evy terdiam. Dipandanginya kado itu dengan sedih.
“Sekali lagi, maaf”, sesal Nick. Ia cepat-cepat pergi meninggalkan Evy yang cukup terpukul itu. Setelah agak lama, Evy pun berjalan menuju kelasnya dengan langkah gontai. Viny dan Selvie yang menunggu kabar dari Evy langsung menoleh ketika Evy memasuki kelas.
“Pasti ditolak tuh...”, bisik Viny pada Selvie. Selvie mengangguk.
Evy duduk di bangkunya. Matanya menerawang. Viny dan Selvie cepat-cepat mendekatinya.
“Kak Nick sudah punya pacar”, kata Evy dengan sedih.
Viny dan Selvie pun langsung menghiburnya sampai tak terasa bel tanda istirahat telah selesai berbunyi.

Bel tanda istirahat ke-2 berbunyi. Evy masih memandangi bungkusan kado yang kecil itu.
“Terpaksa kumakan sendiri saja coklat ini”, batinnya.
Ketika akan membuka bungkusan kado itu, Viny mendekatinya.
“Asyik! Ayo, kita makan sama-sama coklatnya”, sorak Viny.
Evy cepat-cepat menyimpan kado itu.
“Gak jadi ah... Biar kubawa pulang aja, kumakan di rumah aja.”
“Aah! Evy peliiiit!!!!”, teriak Viny.
“Biarin!”, Evy cepat-cepat keluar dari kelas, menghindari Viny dan Selvie yang mulai mengubernya untuk berbagi coklat.
Evy bersembunyi di UKS sekolah. Biar aku disini saja sampai istirahat habis, pikir Evy. Evy memandangi kado coklat itu dengan sedih. “Mungkin memang seharusnya kukasih Kak Ben aja ya”, batin Evy.
“Kamu sakit apa?”, tanya Maria, murid yang sedang bertugas menjaga UKS.
“Aku Cuma mau istirahat disini... menenangkan pikiran dulu”, sahut Evy seraya menyelonjorkan tubuhnya di atas sofa. “Kalau saja bangku kelas kita seempuk ini... aku bakal betah duduk di kelas”, gumam Evy.
Maria tersenyum mendengarnya. Tiba-tiba dari balik tirai terdengar suara, “Yang jelas, pasti kamu bakal ketiduran terus di kelas”.
“Huuhhh... Siapa sih itu?”, gerutu Evy.
Tirai itu terbuka. Seorang murid laki-laki tersenyum padanya, ia sedang berbaring di kasur UKS itu.
“Aku tahu itu kamu, Vi. Suaramu benar-benar khas”, katanya pada Evy.
“Kak Ben? Kakak sedang sakit?.”
“Yah, Cuma sedikit pusing”
“Pusing kenapa kak? Ahh... pasti kakak pusing karena menerima banyak coklat.”
Ben tersenyum. “Yah, susah juga jadi cowok populer.”
Evy mendekati Ben. “Kebetulan kakak ada di sini. Karena kakak sudah banyak menerima coklat, pasti gak ada bedanya kalau dapat tambahan dari saya”. Evy memberikan coklat yang awalnya akan diberikan pada Nick. Ben tertegun.
“Bagaimana kau tahu hari ini ulang tahunku?”, tanya Ben.
“EH???? Hari ini ulang tahun kak Ben? Aku gak tau.... ini coklat valentine, karena gak nemu kertas kado yang sesuai tema, jadi kubeli aja yang ada Happy Birthday-nya. Padahal aku mau kasih coklat ini sebagai tanda persahabatan buat kakak. Jadi ulang tahun kakak tepat hari valentine. Selamat ya, kak”, Evy mengulurkan tangannya.
Ben tersenyum dan menyambut tangan Evy. “Trims ya, Vi.”
“Kamu pasti habis ditolak, makanya kamu kasih coklat ini ke aku”, tebak Ben.
“Hahahaha... Kak Ben tahu aja.”
“Aku tahu aja bagaimana pelitnya kamu. Kamu nggak mungkin membagi-bagikan coklat...”
“Apa aku ini terkenal pelit?”
“Hampir semua temanmu bilang kamu itu pelit. Bagaimana aku tidak tahu.”
“Pelit itu pangkal kaya, kak”
“Hahaha.... Benar-benar otak pelit lu!”.
Evy tertawa, dalam hati ia bersyukur karena bertemu dengan Ben. Ia merasa tenang kalau bertemu dengan Ben. Mungkin karena Ben selama ini selalu bisa membuat hatinya senang.

Evy memasuki kelas dengan santai. Viny dan Selvie langsung menyerbunya.
“Mana coklatnya? Sudah kamu habiskan ya?”, omel Viny.
“Begitulah”, kata Evy, senyumnya pun mengembang.
“Evy memang pelit-lit-lit!!!”, teriak Viny.
“Biarin, wek!”, Evy menjulurkan lidahnya. Ia tersenyum puas karena berhasil mengelabui kedua sahabatnya itu. Ia sesekali tersenyum mengingat kata-kata Ben tadi.

Keesokan harinya, Selvie mendekati Evy yang baru saja masuk ke dalam kelas. Dia tersenyum nakal pada Evy.
“Ehem ehem...”
Evy terheran-heran dengan Selvie.
“Ada apa, Sel?”, tanyanya.
“Aku tahu...”
“Tahu apa?”
“Kemarin itu... coklatnya gak kamu makan sendiri kan?”
“Kumakan kok... sampai habis”, elak Evy.
“Ah, jangan bohong... Aku tahu dari Maria... Kamu ngasihkan coklat itu ke Kak Ben kan? Ayo, ngaku....”
“Enggak kok...”, Evy berusaha menghindari dari pertanyaan Selvie.
“Kata Maria, kalian janjian di UKS kemaren, lalu kamu kasihkan coklat itu ke Kak Ben”
Dalam hati, Evy mengumpat, “Maria penyebar gosip.”
“Aku Cuma kebetulan ketemu Kak Ben di UKS kok... Coklat itu kukasih juga untuk tanda persahabatan aja”.
“Cieeeehhh.... Akhirnya jadi juga ni Evy sama Kak Ben.”
“Enggaaaaaaaaaaak!!!!! Kami gak jadian kok.”
“Tapi berita itu sudah menyebar lho, Vi... Hot news hari ini, Kak Nick pacaran dengan Kak Lanny, terus Kak Ben pacaran denganmu.
“Haaa??? Sejak kapan.... Kacau dah. Kenapa jadi begini?”, Evy menjadi panik.
“Dari aku pertama kali masuk kelas ini.... Teman-teman pada bicarakan kamu, lho”
Viny yang baru datang tampak terheran-heran melihat Evy yang kebingungan.
“Ada apa, Vi?”, tanya Viny.
“Tanyakan saja pada Selvie”, sahut Evy kesal.
Selvie pun menceritakan tentang gosip itu, Viny tampak senang dan mulai menggoda Evy. Evy dibuatnya bertambah kesal.

Sepulang sekolah, Evy didekati Linda dan Yenny.
“Ada apa, Lin, Yen?”, tanya Evy heran, karena tidak biasanya mereka mendekatinya.
Linda tampak ragu-ragu, tapi Yenny sepertinya mendesak Linda untuk bicara.
Linda pun mulai bicara, “A-apa benar kamu sudah jadian dengan Kak Ben?” Evy mendengus ketika mendengarnya.
“Gosip begitu kok didengar... Dengar ya, Lin... Kak Ben itu memang kukasih kado ulang tahun, tapi bukan berarti kami pacaran. Tahu tanggal ulang tahun Kak Ben aja baru kemaren”, jelas Evy.
Linda tampak ragu-ragu, ia pun cepat-cepat menarik Yenny untuk menjauh. Evy hanya terheran-heran melihatnya. Sambil memonyongkan bibirnya, dibereskannya buku-bukunya. Ketika Evy menuju ke pintu gerbang sekolah, seseorang memanggilnya. Evy pun menoleh, ternyata itu adalah Kak Ben. Ia berlari-lari mendekati Evy.
“Kak Ben... Ngapain dekat-dekat aku...”, omel Evy.
“Eit! Galak bener ni cewek.”
“Aku malas melihat kakak...”
“Hmm... Pasti karena gosip itu kan?”
“Udah tau aja tuh... Ini gara-gara Maria juga... cerita yang gak bener”
“Daripada mikirin itu, kamu mau kuantar pulang?”, ajak Ben. Evy terdiam, lalu ia melotot.
“Gak usah.... Rumahku dekat, gak perlu diantar...”, Evy cepat-cepat berlari meninggalkan Ben yang menghela nafasnya.

Evy mengerjakan PR-nya sambil terus menggerutu. Kakak Evy, Fenny tersenyum melihatnya.
“Ngerjain PR atau ngomel sih?”, tegur Fenny.
“Aku Cuma lagi kesal dengan teman-teman di sekolah... “, gerutu Evy.
“Nah, lho... Ada apa lagi?”
“Teman-teman gosipin aku dengan Kak Ben... Padahal tidak ada apa-apa di antara kami.”
“Ben? Oh... Ben yang katamu kapten basket cowok yang baru?”
Evy mengangguk. “Hmm... Kalau gosip itu tersebar.... Berarti Ben itu mungkin naksir kamu.”
“Hah? Ahaha.... Mana mungkin... “
“Kakak yakin itu. Kalau cowok suka kamu, pasti keliatan banget kok.”
“Oya? Bagaimana caranya, kak?”
“Dari cara memandangmu, lalu perhatiannya ke kamu juga beda dengan perhatiannya ke teman cewek yang lain.”
“Oya?”, Evy berusaha mengingat-ngingat. “Tapi kok rasanya kalau dia memandangku, biasa aja kok... Lalu dia selalu perhatian kok ke semua orang.”
“Huuhh....”, Fenny mencubit pipi Evy dengan gemasnya. “Kamu itu terlalu polos... Makanya, dirasakan donk.”
“Kak Fen... Sakiittt”, gerutu Evy sambil mengelus-ngelus pipinya yang kemerahan dicubit Fenny tadi.

Evy masih terus memikirkan kata-kata kakaknya, sampai Ben mendekatinya saja dia tidak sadar. Suasana sekolah masih sepi. Entah kenapa Evy datang ke sekolah lebih pagi hari itu.
“Oi!!!”, bentak Ben. Evy langsung meloncat karena kaget.
“Kak Ben... Bikin kaget aja.”
“Kamu kupanggil-panggil dari tadi gak nyahut, jadi kukagetin saja. Tumben kamu datang lebih pagi.”
“Emangnya kenapa? Lagian kenapa kakak tahu kalau aku gak pernah datang pagi?”
Ben tampak tersipu-sipu, “Emm... Yah, tahu aja.”
Evy menatap Ben dengan penuh selidik. “Kakak memata-matai aku ya?”
“Eh... Tidak...”
“Sudah... Kakak jangan dekat-dekat aku lagi... Nanti dilihat teman-teman, dijadikan gosip lagi”, omel Evy. Ia langsung meninggalkan Ben yang masih terbengong-bengong.
Masa sih Kak Ben suka sama aku? Batin Evy tak percaya.

“Ev... Bentar lagi kita ada lomba basket tingkat propinsi lho”, kata Viny.
“Tahu... Palingan bukan aku yang jadi pemain inti”, komentar Evy.
“Pemain inti banyaknya kelas 2 sih.”
“Eh, Vi.... Besok kan ada pertandingan antar kelas di lapangan basket... Kak Ben bakal main lho... Kita datang pagi-pagi untuk nonton yuk.”
“Huh, malas... Aku jadi males melihat Kak Ben.”
“Ayolah, vi... Aku mau nonton. Nonton pertandingan kakak-kakak kelas kita kan seru. Mana cakep-cakep dan keren-keren lagi.”
Evy mendengus. “Kamu pasti alasannya begitu... Iya deh, besok kita datang pagi-pagi.”

Keesokan paginya, Evy datang pagi-pagi sesuai janjinya pada Viny. Ben dari jauh tampak berlari-lari mendekati Evy. Evy cepat-cepat berlari menghindari Ben.
“Viii! Jangan lari donk!”, panggil Ben.
“Aku gak mau dekat-dekat Kak Ben...”, teriak Evy sambil berlari.
“Evy... Apa kamu sedemikian membenciku sampai-sampai tidak mau dekat-dekat aku. Apa salahku?”, tanya Ben sambil terus berlari mengejar Evy yang berlari semakin kencang. Evy berhenti. Ben pun ikut berhenti. Evy berbalik perlahan-lahan.
“Maaf, kak... Aku tidak membenci kakak... Aku Cuma malu kalau kakak dekat-dekat aku...”, kata Evy sambil menundukan kepalanya.
“Kenapa musti malu?”
“Kakak masa nggak sadar sih? Semua teman pada ngomongin aku dengan kak Ben”, sahut Evy kesal.
“Kurasa itu tidak harus dipikirkan. Biarkan saja semua orang bilang begitu... Kita kan Cuma berteman”.
Evy mengangkat kepalanya dan memandang Ben. Ben tersenyum. Evy membalasnya.
“Benar juga... Kita kan Cuma teman”, Evy mendekati Ben. Ben menangkap tangan Evy dan meletakan sesuatu di telapak tangan Evy.
“Eh? Apa ini, kak?”, tanya Evy. Ben memberikan bungkusan kecil yang dibungkus dengan kertas kado bergambar kado.
“Selamat Ulang Tahun, Evy”, ucap Ben.
“Eh?”, Evy menutup mulutnya dengan tangannya. “Ah iya... Hari ini kan hari ulang tahunku... aku kok lupa?!”
“Haha... Sifat pelupamu itu sudah kayak nenek-nenek”, ejek Ben.
Evy menggembungkan pipinya. “Huh... Tapi, terima kasih, kak... Kakak yang pertama mengucapkannya hari ini”.
“Oya? Aku merasa sangat tersanjung”.

Selvi mendekati Evy. “Ehem ehem... Tadi ngapain dengan Kak Ben?”
Evy memperlihatkan kado yang diberikan Ben.
“Wah... Keduluan aku deh...”, Selvie memberikan sebuah kado yang lebih besar dari kado dari Ben. “Selamat Ulang tahun ya, Ev”, ucap Selvie.
“Makasih, Sel”.
“Kado ini dari aku dan Viny...”, Viny tiba-tiba datang dan mengulurkan tangannya.
“Happy Birthday, Evy”, ucap Viny.
“Trims, Vin”.
Viny tersenyum nakal ketika melihat kado dari Ben.
“Coba buka donk, kami mau tahu apa yang diberikan Kak Ben kepadamu”.
“Ah, jangan... Biar kubuka punya kalian aja, punya Kak Ben kubuka di rumah aja”.
“Yah...”, ujar Selvie dan Viny kecewa.
Evy membuka kertas kado permberian Selvie dan Viny dengan perlahan-lahan. Isinya adalah sebuah dompet.
“Wow... Bagus sekali...”, kata Evy.
“Tentu donk, pilihanku...”, kata Selvie bangga.
“Ayo, sekarang buka kado dari Kak Ben”, paksa Viny.
“Enggak mau”,Evy cepat-cepat memasukan kado Ben ke kantong bajunya.

Pertandingan antar kelas dimulai. Hari ini pertandingan kelas 1 melawan kelas 2. Evy, Selvie dan Viny sudah duduk di pinggir lapangan basket untuk menonton pertandingan ini. Ketika Ben memasuki lapangan, ia sempat tersenyum pada Evy. Viny langsung menyikutnya.
“Asyik nih ye...”, goda Selvie.
“Apaan sih kalian ini”, wajah Evy memerah digoda seperti itu.
“Malu-malu kucing nih”, goda Viny.

Evy sebenarnya penasaran dengan isi kado pemberian Ben itu. Sepanjang pelajaran, ia melihat jam tangannya terus menerus. Rasanya waktu berlalu dengan sangat pelan. Sampai akhirnya, bel tanda pulang sekolah berbunyi. Evy buru-buru keluar dari kelas dan berlari-lari meninggalkan Selvie dan Viny yang rupanya masih ingin mendesak Evy membuka kado Ben.
Sesampai di rumah, Evy langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya. Dipandangnya kado itu sambil tersenyum. Dibukanya kado itu perlahan-lahan. Ternyata isi kado itu adalah sebuah gelang dan sepucuk surat. Evy membuka surat itu dan mulai membacanya.

Buat Evy.

Sebenarnya sudah dari dulu saya ingin mengatakan ini padamu, tapi saya tidak berani. Sejak pertama kali kamu masuk dalam tim basket wanita, saya sudah mulai memperhatikanmu. Melihat senyummu dan tingkahmu yang begitu ceria membuatku bahagia. Pada hati valentine itu, sebenarnya saya sudah cukup kecewa karena ternyata kamu tidak tahu tanggal ulang tahunku, bahkan coklat valentine pun tidak ada satupun darimu. Lalu ketika kau memberikan coklat itu, saya sebenarnya agak sedikit kecewa karena coklat itu kau berikan karena kau ditolak. Aku tahu kamu suka dengan cowok lain, tapi tak apa. Oleh sebab itu, saya memberanikan diri untuk mengatakan ini padamu walau melalui surat. Evy, aku suka kamu.

Salam sayang,


Ben

Evy membaca surat itu berkali-kali. Ia pun tersenyum. Benar juga kata kak Fenny, batin Evy. Lalu ia segera menyimpan surat itu dalam laci dan cepat-cepat keluar dari kamarnya karena ibunya sudah berteriak memanggil Evy untuk makan siang.

Keesokan harinya, seperti biasanya, Evy berangkat sekolah. Kali ini dia tampak ragu-ragu ketika mulai melangkahkan kakinya memasuki gerbang sekolah. Selvie mengejutkannya.
“Kenapa kamu? Kok kayaknya tidak bersemangat”.
“Ah, masa sih?”
“Eh... apa kado dari Kak Ben kemarin?”, tanya Selvie.
Evy menunjukan gelang yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Ooou... Jadi kamu menerima cintanya?”
“Eh?”
“Kalau kamu memakai pemberiannya, berarti kamu juga suka sama dia...”
“Sembarangan kamu... aku pake ini karena aku suka modelnya saja”.
“Oya?”, selidik Selvie.
“Kamu jangan menggodaku terus”, kata Evy kesal dan ia berjalan dengan cepat meninggalkan Selvie yang tersenyum nakal.
Sepulang sekolah, Evy tidak langsung pulang. Ia menunggu seluruh temannya keluar dari kelas baru ia mulai melangkah keluar kelas. Evy langsung terhenti ketika ternyata Ben ada di luar kelasnya, sedang duduk.
“Kak Ben, sedang menunggu apa?”
Ben menoleh dan tersenyum ketika melihat Evy.
“Aku menunggumu... Kamu lama sekali keluar dari kelas”, jawab Ben.
“Eh... Aku...”
Ben melirik ke pergelangan tangan Evy.
“Aku senang, ternyata cocok untukmu...”
“Iya. Terima kasih, kak”.
Mereka terdiam. Evy jadi salah tingkah, Ben sendiri tampak bingung untuk memulai pembicaraan selanjutnya.
“Kamu sudah membaca surat dariku?”, tanya Ben.
“Hmm...”, Evy menganggukan kepalanya.
“Baguslah”, kata Ben.
Mereka terdiam lagi. Evy mulai merasa kesal.
“Kak Ben!”, bentak Evy. Ben tampak sedikit terkejut, Evy sudah ada di dekatnya sambil mengacakan pinggangnya.
“Aku mau mendengar apa yang kakak tulis di surat itu dari mulut kakak sendiri”, tantang Evy.
Ben terperanjat, ia menjadi gugup.
“Masa kakak Cuma berani lewat tulisan?”, omel Evy.
Ben terdiam, ia pun tersenyum.
“Baiklah kalau begitu...”, Ben mundur satu langkah.
“Evy...”
“Ya?”
Ben mulai gugup lagi dan ia hanya membuka mulutnya saja. Evy menggembungkan pipinya. Melihat itu, Ben menahan tawanya.
“Kak Ben jelek!”, bentak Evy, ia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Ben. Ben cepat-cepat mengejarnya dan menangkap tangan Evy.
“Evy... dengarkan aku... Aku suka kamu”, akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut Ben. “Aku suka kamu bukan Cuma sebagai teman”.
Evy menoleh dan tersenyum. “Aku juga suka kakak...”
“Tapi... Bukannya kamu suka Kak Nick?”
Evy menggembungkan pipinya dan memukul bahu Ben.
“Kak Ben bego! Kalau aku sudah bilang suka, jangan ungkit-ungkit soal orang lain donk!”
Ben tertegun, ia sepertinya mencoba mencerna kata-kata Evy. Tak lama, ia mendekati Evy dan memeluk Evy. Evy menjadi salah tingkah, karena ada beberapa temannya yang masih belum pulang dan melihat adegan itu.
“Kakak ini bagaimana sih? Dilihat orang tuh”, bentak Evy.
“Biar saja”, Ben merangkul bahu Evy. “Biar semua orang tahu kalau kita saling suka”.
Wajah Evy memerah. Beberapa orang yang melewati mereka tampak tersenyum. Evy mendorong Ben sambil marah-marah dan meninggalkan Ben. Ben cepat-cepat mengejarnya dan merangkulnya.
“Kuantar pulang ya”, kata Ben.
Evy tersenyum dan mengangguk.

Tamat

Note: Cerita ini kutulis waktu masih kuliah dulu. Nama tokoh utamanya memakai nama teman kosku yang heboh. Lalu Ben itu nama anggota band A1 yang disukai Evy waktu itu. Soal gambar cover cerita ini, sebenarnya gak ada waktu untuk mewarnainya, jadi kuwarnai sembarangan aja pake brush di Photoshop. Ternyata hasilnya lucu juga walau agak berantakan...

Kamis, 04 November 2010

LOVE of ANGELS


Cerita ini kubuat waktu aku masih kuliah.... Masih belum muat cerita baru karena masih dalam tahap penulisan... Mungkin ceritaku ini rada-rada aneh. Dalam ajaran agamaku, tidak ada dewa-dewa seperti Dewa Zeus, Apollo atau Brahmana. Tapi yang namanya berkhayal kan boleh aja suka-suka kan? Kadang aku suka berkhayal dewa itu sebenarnya ada, tapi mereka adalah bawahannya Tuhan... Haha


                Aku duduk mengamati sepasang muda-mudi yang sedang mengobrol di meja seberang. Mereka tampak sangat bahagia. Aku juga merasa bahagia melihat manusia yang saling jatuh cinta itu. Cinta... Andaikan setiap manusia tetap menjaga cinta, maka tidak akan ada peperangan yang menyiksa di dunia ini. Aku sudah terbiasa melihat manusia yang saling jatuh cinta, putus cinta, bahkan bertengkar karena putus cinta. Tugasku sebagai malaikat cinta memang tidak mudah, aku harus  terus mengawasi mereka sendiri dan memberi nasihat di hati mereka. Ada manusia yang jujur dengan perasaannya, ada yang selalu menutup hatinya. Aku harus bersabar untuk semua itu.
                Seperti biasa, aku mengawasi daerah yang dipercayakan padaku, daerah K. Hari ini aku menyamar sebagai manusia dan berjalan memasuki lorong-lorong kota.
                "Jenifer...", panggil seseorang. Tiba-tiba di hadapanku ada Ledna. Ia sama sepertiku, seorang malaikat cinta, dan ia mengawasi daerah F, daerah yang tidak jauh dariku. Kami sering bertemu dan saling memberi saran untuk menghadapi manusia-manusia yang sulit dihadapi.
                "Ledna? Ada apa kau kesini?".
                Ledna meneteskan air matanya. Ia tampak sangat tertekan.
                "Kamu... menangis?"
                "Jen, aku sudah tidak tahan lagi", isak Ledna. "Aku akan berhenti menjadi malaikat cinta".
                Aku tersentak, "Ledna, sadarlah... kau tidak bisa melakukan itu".
                Ledna menggeleng.
                "Kau tahu, Jen... Kita sebagai malaikat cinta selalu memberikan nasehat tentang cinta kepada manusia, tetapi kita tidak bisa meraih cinta kita...."
                "Ledna... Masa kau..."
                "Aku jatuh cinta pada seorang pria. Pria itu juga sudah berkali-kali mengatakan cinta kepadaku...", Ledna tersedu-sedu. "Kalau kita dilarang jatuh cinta, kenapa kita diberikan perasaan cinta... Seharusnya Dewi Venus menghilangkan perasaan ini ketika ia memilih kita menjadi malaikat", kata Ledna dan ia pun menghilang.
                Aku tertegun, merenungkan kata-kata Ledna itu. Benar kata Ledna, jika kami sebagai malaikat cinta dilarang jatuh cinta, kenapa perasaan ini tidak dibuang jauh-jauh. Dewi cinta sebelumku di daerah K ini juga sama seperti Ledna. Ia jatuh cinta kepada seorang pria dan ia sudah menikah dengan pria itu. Hukuman karena telah melanggar peraturan tidak jatuh cinta adalah kami dibuang dan dilahirkan menjadi manusia. Itu berlaku untuk semua malaikat. Setelah menikah, malaikat cinta itu tertangkap dan ia pun harus menjalani hukumannya.
                "Ledna, maafkan aku, aku tidak bisa membantumu", bisikku.
                "Khu khu khu... Memalukan", seorang pria berbaju hitam berdiri di sampingku. Dia adalah Alexis, malaikat kebencian yang ditugaskan di daerah yang sama denganku.
                "Cinta itu benar-benar membuat semua orang lemah... tidak berguna!", ejek Alexis.
                "Pergi kau!",usirku.
                "Oh, jahat sekali... Dewi cinta kok kasar sekali. Seharusnya kau menyambutku dengan penuh cinta", sindir Alexis dan ia pun menghilang.

                Sementara itu, di khayangan, Dewi Venus tampak sibuk memeriksa data-data manusia yang akan direkrutnya menjadi malaikat cinta. Sebuah panggilan menghentikan Dewi Venus.
                "Maaf, Dewi Venus... Tuan Dewa Mars ingin berbicara dengan Anda".
                "Hm, ada apa gerangan?", gumam Dewi Venus. "Sambungkan...", perintahnya.
                Sebuah layar hologram muncul, dari layar itu terlihat seorang pria dengan tatapan dan senyum sinis menyambut Dewi Venus.
                "Mars... Kenapa kau tiba-tiba menghubungiku?"
                "Aku cuma ingin menyapamu... Dewi cintaku yang cantik".
                "Oh... Terima kasih. Tapi aku tahu, kau tentunya tidak suka membuang-buang waktumu cuma karena ingin menyapaku, bukan?"
                Dewa Mars terkekeh-kekeh.
                "Kau benar-benar mengerti aku..."
                "Lalu ada urusan apa kau menghubungiku?"
                "Kudengar ada satu lagi malaikatmu yang jatuh cinta dan berhenti menjadi malaikat..."
                "Ya, benar sekali"
                "Apa kau tidak malu? Ini sudah yang kesekian kalinya... Lalu kau terus-terusan mencari pengganti mereka."
                "Untuk apa aku malu? Mereka adalah malaikat cinta. Jika mereka jatuh cinta, itu bukan hal yang memalukan. Justru itu adalah hal yang patut dibanggakan."
                Mars mendengus. “Kau tahu, kadang cinta bisa berubah seiring berjalannya waktu”.
                “Aku tahu itu, tapi selama manusia masih mau saling menghargai dan membutuhkan, cinta akan selalu ada”, jawab Venus.
                “Terserah apa katamu”, Mars mematikan layar dihadapannya. Venus menghela napasnya.

                Aku memasuki toko buku dan melihat-lihat buku di situ, banyak sekali buku-buku cerita tentang cinta. Seorang pria mendekatiku.
                "Hai... ", sapa pria itu.
                "Hai", sahutku.
                "Boleh aku berkenalan denganmu?", tanya pria itu. Aku tersenyum.
                "Ya, namaku Jeniffer", jawabku.
                "Aku Frans", jawab pria itu. Kami pun bersalaman.
                "Aku sering melihatmu ke sini... Apa kau buku?", tanya Frans.
                "Ya, aku suka sekali", jawabku.
                Pria ini tampaknya tertarik denganku, aku bisa merasakannya. Ia mengajakku bercerita tentang berbagai macam buku. Aku senang mendengarnya, karena ternyata pria ini juga senang membaca novel cinta. Dari kejauhan, aku melihat Alexis, ia menatapku tajam dari kejauhan. Aku berbalik menatapnya. Rupanya ia merasa tidak enak dan ia langsung menghilang.
                "Ada apa?", tanya Frans. Aku hanya menggeleng dan meninggalkannya seorang diri.
                Rupanya Alexis ada di luar toko itu. Aku mendekatinya.
                "Apa maksudmu mengawasiku?"
                Alexis tersenyum sinis dan berkata,"Aku hanya ingin selalu memantau perkembangan cerita cintamu. Kali ini pria itu?"
                Aku marah.
                "Bukan urusanmu".
                "AKu tahu, kau sudah berkali-kali jatuh cinta dengan pria manusia tapi selalu kau simpan perasaan itu... Kenapa? Padahal aku ingin kau berhenti seperti pendahulu-pendahulumu".
                "Kau tahu kenapa? Aku tidak ingin kalah dari kalian para malaikat kebencian. Kalian sudah beribu-ribu tahun menjadi malaikat. Aku tidak akan kalah".
                "Oh, begitu... Kita lihat saja nanti. Sampai berapa lama kau bisa bertahan", Alexis terkekeh-kekeh dan menghilang di antara kerumunan orang.

                Frans, pria itu selalu saja mengajakku pergi berjalan-jalan ke mana saja. Aku selalu menolaknya. Tidak, aku tidak ingin memberinya harapan.
                Hari ini, entah kenapa aku ingin memasuki bioskop. Dengan memakai tubuh malaikatku, tidak ada yang bisa melihatku, sehingga dengan leluasa aku bisa memasuki bioskop. Aku duduk di bangku yang kosong. Film yang ditayangkan bercerita tentang seorang wanita manusia yang jatuh cinta dengan seorang vampire. Mereka bisa hidup bahagia. Seandainya di dunia nyata segala sesuatunya semudah itu, tidak ada yang akan patah hati.
                "Cerita payah!", aku dikagetkan dengan suara yang sudah sangat kukenal. Aku menoleh, ternyata Alexis duduk tepat di sebelah kananku.
                "Sejak kapan kau ada di situ?", desisku marah.
                "Sejak kau menikmati film memuakkan ini", jawab Alexis dengan senyum mengejek.
                "Kenapa kau ikut menonton kalau memuakan".
                "Aku hanya ingin tahu, film apaan sih ini sampai banyak yang suka. Ternyata cuma cerita cinta", desah Alexis dengan nada kecewa.
                “Cerita cinta memang selalu disukai, bahkan cerita perang saja dibumbui dengan cerita cinta, bukan?”, sahutku.
                “Huh! Membosankan!”, gerutu Alexis.
                “Aku lebih baik pergi daripada mendengar gerutuanmu”, kataku kesal dan bangkit berdiri, siap untuk meninggalkan tempat itu. Alexis cepat-cepat menahan tanganku.
                “Rasanya tidak seru kalau kita nonton separuh jalan”.
                Aku pun duduk lagi. Di layar menampilkan adegan dua orang pemeran utama berciuman. Alexis hanya mendengus.
                “Apa kalau cinta itu selalu dibuktikan dengan ciuman?”
                “Itu hanya ekspresi orang yang saling mencintai...”, jawabku kesal.
                “Lalu bagaimana kalau begini?”, Alexis mendekatkan wajahnya kepadaku. Aku terkejut dan cepat-cepat memalingkan wajahku.
                “Apa yang kau pikirkan?”, kataku geram.
                Alexis tidak menjawab. Tiba-tiba aku merasakan gelombang yang sudah sangat kukenal, gelombang cinta dari Alexis. Alexis rupanya menyadarinya dan ia cepat-cepat menghilang. Aku tertegun, apakah benar yang kurasakan ini? Alexis? Jatuh cinta? Apakah seorang malaikat kebencian juga bisa mencintai? Kalau memang seperti itu, aku tidak bisa membantunya. Maafkan aku, Alexis.

                Aku mengamati  Frans dari seberang jalan. Dia sedang asyik menekan-nekan BB-nya. Sesekali ia tersenyum ketika membaca pesan dari teman-temannya. Aku teringat pada Alexis. Aku tidak melihatnya selama beberapa hari ini sejak hari itu. Mungkin ia malu karena mempunyai perasaan cinta. Hal yang memalukan, karena ternyata malaikat kebencian mempunyai perasaan cinta.
                “Hei!”, tegur Frans.
                Aku tersadar dari lamunanku. Frans tersenyum.
                “Apa yang kau pikirkan? Sampai-sampai tidak sadar aku mendekat.”
                “Tidak”, jawabku. “Aku sedang ada masalah dengan temanku”.
                “Hmm, kalau boleh tahu, teman wanita atau pria?”
                Aku sebenarnya tidak senang jika ada yang ikut campur begini, tapi aku tersenyum dan menjawab, “Teman priaku”.
                Frans terlihat sedikit kecewa dengan jawabanku.
                “Maaf kalau aku terlalu lancang, kalau kau tidak keberatan, aku siap membantumu”.
                “Terima kasih, Frans. Ini masalah pribadi, biar kami sendiri yang menyelesaikannya”, tolakku.
                Frans semakin kecewa, aku bisa melihatnya di raut wajahnya. “Ya sudah kalau begitu, aku harus pergi dulu... Kita bertemu lagi lain waktu ya”, Frans pun cepat-cepat pergi.
                Aku memandangi Frans yang pergi menjauh. Maaf, ini bukan masalah yang bisa diselesaikan oleh manusia biasa. Bahkan kami sebagai malaikat saja tidak bisa menyelesaikan masalah ini. Alexis, di mana kau? Entah kenapa perasaanku menjadi tidak menentu karena mengkhawatirkannya.
                “Alexis tidak ada di sini?”, seorang wanita berpenampilan seperti Alexis muncul di hadapanku. Aku tahu, dia adalah malaikat kebencian di daerah tetangga.
                “Dia menghilang beberapa hari ini, aku tidak melihatnya”, jawabku.
                “Hmmm”, wanita itu melirikku dengan nakal. “Kau tahu? Alexis sudah 3 bulan tidak melapor kepada dewa Mars. Jadi dewa Mars menyuruhku untuk mencarinya”.
                “Tiga bulan? Ada apa dengan Alexis?”
                “Entahlah, kapan kau terakhir bertemu dengan dia, Jenifer?”, selidik wanita itu.
                “Kira-kira 4 hari yang lalu.”
                Wanita itu mengernyitkan kepalanya.
                “Dia masih menemuimu, tapi tidak pernah memberi laporan lagi?”
                Wanita itu menghilang. Aku terpana. Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Alexis, tapi bisa saja Alexis takut perasaannya itu diketahui oleh Dewa Mars dan iapun dihukum.
                “Aku tahu dimana Alexis berada”.
                Di hadapanku berdiri Desdemona. Pakaiannya hitam dan wajahnya begitu muram. Ia adalah malaikat kematian yang bertugas di area yang sama denganku dan Alexis.
                “Kenapa kau tidak memberitahu wanita tadi?”
                Desdemona menatapku tajam. “Menurutmu apa yang akan terjadi jika wanita itu bertemu Alexis?”
                Aku diam.
                “Jen,  Alexis yang sekarang sudah tidak mempunyai aura kebencian. Perasaan cinta muncul di hatinya. Itu adalah aib untuk malaikat kebencian. Jika wanita itu bertemu Alexis, ia akan melaporkannya pada Dewa Mars dan ia akan dihukum. Hukuman bagi malaikat kematian yang melanggar peraturan sangatlah berat. Sebelum mereka dibuang, mereka akan disiksa terlebih dahulu kemudian mereka akan direinkarnasi menjadi manusia yang nasibnya sangat sengsara”.
                “Lalu apa aku harus menemuinya? Kalaupun aku bertemu dengannya, aku tidak bisa membantunya”.
                “Setidaknya ikuti saja aku.’’
                Desdemona menghilang dan aku cepat-cepat mengikutinya. Kami pun tiba di lobi hotel berbintang lima. Desdemona menyusuri sofa-sofa yang ada di lobi itu, aku mengikutinya. Lalu aku melihat sosok yang sudah kukenal, Alexis.  Alexis tampak menderita. Ia memandangi langit-langit lobi hotel itu dengan pandangan kosong.
                “Alexis”, panggilku pelan.
                Alexis menoleh dengan perlahan. Ketika melihatku, ia hanya tersenyum tipis.
                “Bagaimana kau menemukanku?”
                “Desdemona yang memberitahu”
                Desdemona menatap Alexis dingin. Alexis mendengus. “Sudah kubilang, jangan campuri urusanku, Des”.
                “Desdemona mengkhawatirkanmu, Lex”.
                Alexis kembali mendengus.
                “Lalu buat apa dia membawamu kemari? Apa KAU si malaikat CINTA bisa membantuku?”, ejek Alexis. Ia lalu tertawa terbahak-bahak sehingga ada beberapa orang melihatnya dengan heran.
                “Baiklah”, Alexis berdiri dari sofa. Ia mendekatiku. Diraihnya tanganku dan diletakannya tanganku ke dadanya.
                “Perasaan apa ini? Aku tidak suka!!!”, bentak Alexis. Aku meringis kesakitan, apalagi Alexis memegang tanganku dengan sangat keras. Alexis melepaskan tangannya.
                “Kalau begitu, katakan siapa orang yang kau cintai itu”.
                “Untuk apa? Walaupun kau tahu, kau tidak bisa berbuat apa-apa juga”, Alexis kembali duduk.
                “Mungkin aku bisa mendengarkan keluhanmu, setidaknya itu bisa mengurangi rasa sedihmu”.
                Alexis terdiam.
                “Aku harus pergi”, Desdemona langsung menghilang.
                Aku menatap Alexis sedih.
                “Jangan menatapku seperti itu”.
                “Katakan apa yang kau rasakan?”
                Alexis menghela napasnya. Ia menutup matanya.
                “Cinta bisa membuat orang posesif. Cinta bisa membuat orang gila. Cinta itu menyakitkan kalau bertepuk sebelah tangan. Cinta....”, Alexis berhenti bicara dan ia memandangku dengan sedih. “Cinta itu perasaan yang sangat menyedihkan”.
                Aku tidak bisa membalas kata-katanya, jadi aku Cuma memandanginya.
                “Duduklah... Aku tidak mau kau berdiri terus di situ”, pinta Alexis. Aku pun duduk di sampingnya.
                “Aku tidak tahu sejak kapan mempunyai perasaan ini. Aku selalu merasa senang jika melihat senyumnya. Jika aku tidak bertemu dengannya, aku merasa kehilangan dan aku akan segera mencarinya. Lalu ketika ada orang lain mendekatinya, aku marah. Rasanya ingin aku menyingkirkan orang itu. Tapi aku takut dia akan menangis dan tidak tersenyum lagi”.
                “Lalu dimana dia sekarang?”
                Alexis diam, ditatapnya aku dengan tajam. Aku merasa pandangannya seperti menusuk jantungku. Jantungku berdebar kencang. Ah, kenapa aku merasa seperti ini? Alexis mengulurkan tangannya dan mengusap pipiku.
                “Aku senang akhirnya aku bisa bertemu denganmu”, jawabnya sambil tersenyum dan ia pun menghilang dari hadapanku. Tanpa terasa air mataku mengalir. Desdemona duduk di sebelahku.
                “Kita sebagai malaikat tidak diijinkan untuk jatuh cinta.... Alexis sadar itu.... Dia sudah siap menerima hukuman”.
                “Maksudmu?”
                “Alexis mengatakannya padaku... Ia ingin bertemu denganmu sebelum ia menghadap Dewa Mars untuk yang terakhir kalinya”.
                “Eh?”

                Alexis berjalan dengan langkah gontai memasuki ruangan Dewa Mars. Dewa Mars menatapnya dengan marah.
                “Bodoh kau!”, bentaknya. Alexis hanya tertunduk.
                “Valerie... Bawa dia ke ruang hukuman!”, perintah Dewa Mars.
                Valerie menarik tangan Alexis. Alexis melepaskannya dan berkata, “Aku tidak akan kabur, aku akan jalan sendiri”.
               
                Aku berlari melewati beberapa malaikat penjaga istana Dewa Mars. Mereka mengejarku. Lalu aku melihat wanita yang tadi menemuiku di dunia.
                “Di mana Alexis?”.
                Wanita itu tersenyum sinis, iapun melambaikan tangannya kepada para penjaga yang mengejarku. Para penjaga itu berhenti dan mundur.
                “Kau ingin menemuinya? Baiklah, aku akan mengantarkannya padamu”.
                Wanita itu mengantarkanku ke sebuah ruangan. Di ujung ruangan itu aku melihat Alexis dengan tangan terikat. Ia berkali-kali dipukuli oleh seseorang berwajah sinis. Aku cepat-cepat mendekati Alexis.
                “Alexis!”, panggilku.
                Alexis perlahan-lahan membuka matanya.
                “Jen...”, sahut Alexis lemah.
                Tiba-tiba air mataku mengalir.
                “Hei... kenapa kau menangis? Tersenyumlah.”
                “Alexis...”
                Pria berwajah sinis itu mendorongku dan ia melepas ikatan pada Alexis.
                “Sudah saatnya kau menjalani masa reinkarnasi, Alexis”, kata pria itu. Alexis menurut dan mengikuti pria itu.
                “Alexis... Sebelum kau pergi, aku ingin mengatakan ini... aku cinta kamu”, seruku sambil menahan isak tangisku.
                Alexis berhenti dan ia menoleh padaku dan tersenyum. “Aku senang mendengarnya... Aku juga mencintaimu, Jen”, kata Alexis dan ia pun kembali berjalan mengikuti si pria tadi. Wanita yang tadi mengantarku membantuku berdiri.
                “Trims...”, ucapku. “Aku lega setelah mengucapkannya, terima kasih atas bantuanmu”.
                Wanita itu memalingkan wajahnya dariku. Aku pun melangkah keluar dari ruangan itu. Aku pun menuju istana Venus untuk menemui Dewi Venus.
                Dewi Venus rupanya sudah menungguku, ia tersenyum padaku.
                “Kau tahu, Jen? Kadang perasaan benci itu bisa berubah menjadi cinta, dan cinta bisa berubah menjadi benci... Sampai ada yang mengatakan, perbedaan antara cinta dan benci itu sangat tipis.”
                Aku mengangguk. Dewi Venus memandangku penuh arti. “Kau sudah melanggar peraturan... Jadi kau harus menjalani hukuman juga”.
                Aku hanya bisa tertunduk. Aku sudah menduga pasti akan seperti ini.
                “Aku sudah siap menerima hukuman ini, Dewi... Tapi aku tidak menyesal karena aku sudah mengatakan perasaanku pada Alexis”.
                Dewi Venus kembali tersenyum. “Alexis akan menjalankan hukuman reinkarnasinya di planet B, dan kau akan menjalani hukuman di planet H. Kalian memang tidak akan diletakan di planet yang sama karena ini adalah hukuman buat kalian”.
                “Ya, aku tahu, Dewi... Walau aku tidak bertemu dengannya, tapi aku akan menemukan cinta yang lain di planet itu”.
                “Aku senang dengan jawabanmu... Tapi ada satu hal kenapa ini dikatakan sebagai hukuman bagi para malaikat. Karena setelah menemukan cinta yang lain itu, kau masih terus mencari cintamu selama menjadi malaikat... Kau tidak akan selalu menanti pria yang menjadi cintamu sekarang.”
                Aku mengangkat kepalaku dan memandang Dewi Venus dengan tidak percaya.
                “Kalau Tuhan berkenan, kalian akan bisa dipertemukan”, hibur Dewi Venus sambil tersenyum. Aku tahu, Dewi Venus hanya menghiburku, karena 2 planet yang berjauhan seperti itu tidak mungkin kami bisa bertemu.
                “Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan...”, kata Dewi Venus yang membaca pikiranku. Ia pun membawaku menuju ruang reinkarnasi.
                Alexis, jika memang Tuhan berkenan, aku ingin bertemu lagi denganmu dan kita dapat saling mencintai.

                Aku terbangun dari tidurku, air mataku mengalir dan kuhapus air mataku, “Mimpi itu lagi...”
Entah kenapa aku selalu memimpikan hal itu. Menjadi malaikat yang jatuh cinta dan diusir. Tapi mimpi itu penuh kesedihan, sampai2 air mataku mengalir.
                “Nancy... kau sudah bangun?”, panggil Gina, teman sekamarku dari luar kamar.
                “Ah, iya... kenapa Gina?”
                “Kita sebentar lagi akan tiba di planet Covenent... Kapten kapal sudah menunggu kita”.
                Aku cepat-cepat bersiap. Entah kenapa sepertinya planet ini terus memanggilku. Aku memaksa untuk diikutkan dalam investigasi ke planet yang indah ini. Sepertinya ada sesuatu yang menungguku disini. Aku jadi tidak sabar untuk menginjakkan kakiku di planet ini.

Tamat